“Manhaj”, Satu Penjelasan Sederhana

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S. Ali Imran : 103)

         Manhaj secara bahasa berarti metode. Dalam khasanah Islam, metode ini mencakup metode dakwah, pendidikan, fikih, pemikiran, dan pergerakan. Di dunia Islam berkembang banyak manhaj, dimana perbedaan manhaj itu didasari oleh Objek. Namun semuanya memiliki kesamaan orientasi-tujuan, yakni untuk meneguhkan Tauhid pada setiap objek manhaj. Dalam Ulumddin, setiap manhaj memiliki kesamaan dalam hal Ushul(Inti), dan hanya terjadi perbedaan pada hal-hal Furu’iyyah(cabang).

        Munculnya berbagai ragam manhaj, timbul dengan sendirinya dari objek manhaj. Kita lihat cara mendakwahi anak jalanan berbeda metodenya dengan mendakwahi kaum intelektual. Dan kalau kita lihat lagi, mengapa setiap manhaj memiliki tujuan gerakan yang  berbeda?, padahal tujuan setiap manhaj adalah sama yakni Tauhid. Hal ini mencerminkan apa yang dikatakan oleh Rasulullah saw. dalam potongan hadits riwayat Bukhari dan Muslim, “…mereka seperti perumpamaan satu tubuh…” . Artinya umat muslim itu seperti memiliki kepala, tangan, tubuh, kaki, tangan, jantung, hati, dan lain-lain. Dan setiap manhaj itu memiliki kecenderungan pada kerja organ tertentu, ada manhaj yang lebih mengutamakan kerja kepala dan ada pula yang lebih mengutamakan kerja kaki, tangan, hati, dst. Kesimpulannya satu manhaj itu melengkapi fungsi manhaj yang lain sehingga “Tubuh Islam” itu kuat semuanya.

         Bila kita mau meneliti secara cermat, setiap manhaj memiliki kelebihan dan kekurangan. Adapun kekurangan, adalah suatu hal yang tidak patut untuk dibesar-besarkan. Namun “kelebihan” mereka inilah yang patut kita hargai. FPI, mereka manhaj pergerakannya adalah pencegahan amal ma’ruf nahi mungkar. Tidak semua orang mampu melaksanakan Nahi mungkar dengan “tangannya”. Disini kita patut mengapresiasi mereka, karena telah mampu melakukan suatu “kekosongan” yang tidak mampu kita lakukan.

         Demikian halnya dengan manhaj pergerakan lainnya. Mari bersama-sama kita lihat kelebihan yang ada pada tiap-tiap manhaj di Indonesia. Nahdatul Ulama (NU), Organisasi ini memiliki kelebihan dengan Pendekatan Kultural-nya. Mereka bergerak pada lapisan masayarakat kelas bawah pedesaan. Tidak semua manhaj mampu menyuntikkan nilai-nilai Islam pada masyarakat bawah sebaik metode yang digunakan NU. Muhammadiyyah, memiliki kelebihan dalam bidang intelektualitas dan pendidikan di masyarakat perkotaan. Salafy, mereka memiliki kelebihan dalam penjagaan kemurnian-keshahihan al-Hadits. Dengan dakwah mereka kita menjadi tahu akan hadits daif dan hadits shahih, dan tidak boleh sembarangan menggunakan hadits daif sebagai hujjah. Kita melihat keteguhan mereka dalam mengamalkan berbagai teks hadits (as-Sunnah), contohnya dalam hal berpakaian. Tidak semua muslim berani tampil beda dengan pakaian yang benar-benar as-Sunnah dalam pergaulan dunia modern ini.

        Ikhwanul Muslimin, mereka bergerak pada bidang politik di dalam pemerintahan. Walaupun mereka tahu bahwa Demokrasi merupakan sistem yang memiliki banyak sekali kekurangan. Tetapi akan menjadi suatu dosa besar bagi umat, bila di dalam suatu pemerintahan demokrasi tidak ada yang berjuang meninggikan kalimat Tauhid. Begitupun dengan Hizb at-Tahrir, dengan dakwah mereka kita mengetahui kebusukan-kebusukan sistem demokrasi dan kita selalu diingatkan akan “Khilafah”, yang memang merupakan sistem yang telah digariskan oleh Rasulullah saw. untuk umat Islam. ZIZ–suatu lembaga amil zakat, tidak semua orang bisa menyempatkan menyalurkan zakatnya sendiri. Dengan adanya lembaga amil zakat, hal itu memudahkan mereka yang memiliki perkerjaan yang sibuk.

         Namun “Aliran Sesat” yang telah difatwakan MUI, tidaklah termasuk dalam pembahasan di atas. Karena aliran-aliran sesat semuanya berbeda secara Ushul dengan umat Islam umumnya. Ushul menggambarkan inti dasar ajaran Islam, bila ushul-nya berbeda berarti ia sudah tidak termasuk lagi dalam Islam. Ada juga aliran sesat yang menjadikan hal furu’iyah sebagai ushul, seperti Syiah. Ushul-ushul aliran sesat adalah buatan-buatan yang tidak terdapat dalam ajaran Islam, inilah Bid’ah akidah yang sebenarnya. Bila tidak di hilangkan, maka aliran sesat ini akan merusak ajaran Islam di dunia dan membawa kepada keburukan di akhirat (naar).

        Wa’tashimu wala tafarraqu…

wallahu a’lam bish showab

Iklan

About this entry