Media dan Tendensi (Keberpihakan)

     Media tanpa tendensi. Gaung yang seolah bak cahaya tapi ternyata penuh kerancuan. ANTV bertendensi kepada Abu Rizal Bakrie. Metro TV dan Media Indonesia bertendensi kepada Surya Paloh. Trans Group bertendensi kepada Chairul Tanjung. Global TV dan RCTI bertendensi kepada Hari Tanu. Kompas dan semua koran berlabel “Tribun” bertendensi kepada Katolik dan Jacob Oetama. VOA-Islam.com bertendensi kepada Abu Bakar Ba’asyir. Muslim.or.id bertendensi kepada gerakan Salafi. Fimadani.com dan dakwatuna.com bertendensi kepada Ikhwanul Muslimin. Majalah Wa’ie bertendensi kepada Hizb at-Tahrir. Republika bertendensi kepada kalangan Islamis. Jadi tidak ada media yang tidak bertendensi.

     Suatu saat, kami menghadiri bedah buku “Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam” di wisma LPI. Buku ini dibedah langsung oleh 2 penulis utama yakni, Dr. Adian Husaini dan Dr. Syamsudin Arif. Pada saat sesi tanya jawab, seorang mahasiswi senior jurusan Psikologi UGM terlibat silang pendapat dengan Dr. Syamsudin Arif mengenai konsep “Objektif”. Beliau mengatakan bahwa tidak ada yang objektif di dunia ini apalagi dalam konsep ilmu. Kalau seseorang dipaksa objektif (tidak berpihak/tidak berdasar) dalam menganalisa suatu fenomena, maka ia harus mengeluarkan atau membuang sementara semua pandangan dan memori kognitif yang ia punya. Apakah itu bisa? jelas tidak bisa, seorang peneliti butuh suatu pandangan dasar atau metode dasar untuk menganalisa. Entah apakah itu pandangan Matrealistis, Sekular, Liberal, Islam dan lain-lain.

     Seorang sarjana sains barat menulis sebuah buku dan ia mengklaim bahwa isi bukunya objektif. Maka sebenarnya dia tidak objektif. Ia tidak sadar kalau karyanya dipenuhi dengan dominasi pandangan sekular-matralistis, celakanya pandangan ini ia anggap sebagai kaedah yang objektif. Jadi ia tetap tidak netral melainkan subjektif dan bertendensi dengan metode sains sekular-matrealistis. Bila perkataan Dr. Syamsudin Arif ini kita bawa ke ranah media, maka benarlah bahwa semua media tidak ada yang tidak bertendensi.

     Tendensi lebih tepat bila diartikan sebagai “keberpihakan” atau “kecenderungan”. Se-ketidak berpihakan apapun ia tetap bertendensi. Hanya dalam hal ini, tendensi yang sebenarnya itu adalah berpihak kepada kebenaran hakiki. Kebenaran hakiki tidak ada kecuali dengan keadilan. Adil tidak berbentuk kalau ia tidak memiliki furqan. Seseorang tidak memiliki furqan tanpa petunjuk. Dan sebaik-baik petunjuk adalah Kitabullah dan Sunnatu Rasulillah.

     Lalu muncul suatu pertanyaan, Bila semua media pasti bertendensi berarti tidak ada media yang menggiring kepada suatu kebenaran. Apologi pertanyaan ini salah. Bukan itu, yang perlu dipertanyakan adalah kepada siapa kita seharusnya betendensi?. Bila dibandingkan antara pertanyaan pertama dengan pertanyaan ke-dua, pertanyaan pertama akan memberikan jawaban berupa jawaban yang penuh pertanyaan lagi dan menggiring kepada kegalauan. Pertanyaan pertama akan menambah kebingungan dan akhirnya menggiring pada kesimpulan, “Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah”. ini faham yang salah.

     Manusia diciptakan oleh Allah azza wa jalla dengan tujuan yang haq, agar manusia itu menyembah/beribadah kepada Allah semata (Q.S. adz-Dzariyat:56). Dan dalam surat al-Maidah ayat 8, Allah berfirman “Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada taqwa.” Dengan berpegang kepada 2 ayat ini, menjadi jelas bahwa media harus bertendensi kepada kebenaran dan keadilan. Tendensi ini adalah bentuk ibadah kepada Allah azza wa jalla.

     Adil itu bukan sama berat, bukan pula pukul rata. Lebih dari itu, adil adalah meletakkan sesuatu itu pada tempatnya. Seorang bapak memiliki 3 orang anak, anak perama duduk di bangku kuliah, anak kedua masih belajar di sekolah menengah atas, dan anak ketiga masih belajar membaca di taman kanak-kanak. Bila sang bapak beranggapan bahwa adil adalah sama rata atau pukul rata, lalu ia memberi uang saku yang sama besar maka akan terjadi ketidak-adilan yang dirasakan oleh anak-anaknya. Bapak itu memberikan masing-masing, uang sebesar Rp. 300.000,- perbulan. Uang sebesar itu mungkin cukup bagi anak keduanya yang duduk di bangku SMA, tapi tidak cukup untuk keperluan anak pertamanya, dan uang sebesar itu menjadi hal yang berlebih-lebihan bagi anak ketiganya. Satu lagi, karena anak kedua menonjol dalam bidang akademik lantas sang bapak lebih menyayanginya dari anak-anaknya yang lain. Ini salah besar karena akan mengakibatkan kecemburuan diantara mereka. Seorang ayah yang adil harus menyayangi semuanya. Di sinilah letak keadilan itu adalah meletakkan sesuatu itu pada tempatnya. Keadilan itu harus diterapkan tanpa memandang umur, suku, bangsa, kaya, miskin, partai dan agama.

     Suatu siang, kami bersilahturahmi kepada sahabat yang bernama Ahmad Fauzan. Ia mengabarkan bahwa Ust. Aris Munandar menulis sebuah artikel di suatu website. Isi artikel itu adalah meligitimasi secara agama, kesalahan yang dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi atas kudeta Mesir. Sekonyong-konyong Saudi Arabia mengeluarkan pernyataan pers bahwa militer yang berkuasa sekarang adalah Ulil Amri. Pemerintah Arab saudi mengakui pihak militer yang melakukan kudeta adalah Ulil Amri yang sah. Logikanya seharusnya dibalik, Morsi-lah Ulil Amri yang sebenarnya karena ia secara sah memenangkan pemilihan. Militer seharusnya taat kepada Ulil Amri Morsi, bukan malah menggulingkannya. Usut lebih jauh, Ust. Luthfan, seorang pengajar bahasa Arab di Ma’had Ali bin Abi Thalib, menganalisa bahwa tujuan pernyataan pihak Saudi adalah untuk membendung arus Ikhwanul Muslimin ke negaranya. Bila Ikhwanul Muslimin masuk ke Saudi, maka Arab Spring akan melanda negara itu. Akibat dari Arab Spring, keluarga Saudi akan kehilangan kekuasaannya, dan tergantikan dengan kepemimpinan musyawarah. Lagi-lagi ini soal dunia, masalah perut, Keluarga Saudi tidak rela kehilangan kerajaannya. Praktis, akhirnya ia menjual keadilan demi perutnya.

     Kembali ke Ust.Aris Munandar. Legitimasinya dalam artikel itu menggunakan pendapat (ra’yu) dengan dalil utama sebuah hadits riwayat Bukhari, “Seorang Tabi’in mendatangi Anas bin Malik r.a mengadukan kepadanya akan atas kekejaman Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqofi. Anas berkata, “Bersabarlah! karena Rasulillah s.a.w pernah berkata “Tidak akan datang suatu masa melainkan lebih buruk dari masa sebelumnya”. Hadits ini benar dan shahih bisa di cek di kitab Riyadhus Shalihiin, bab. 10. Bersegera dalam Kebaikan no. 92. Akan tetapi Ust.Aris Munandar melakukan kesalahan fatal dalam merujuk pendapatnya (ra’yu), ia melakukan ketidak-adilan.

     Dalam ushul fikih umum madzhab Hanbali, Istinbath -penetapan hukum dan ra’yu (pendapat) yang paling utama harus merujuk kepada al-Qur’an terlebih dahulu. Bila tidak terdapat dalam al-Qur’an barulah merujuk ke hadits Nabi s.a.w. Bila permasalahan itu tidak pula didapatkan pemecahannya dalam al-hadits, maka dicari dari ijma wal qiyas. Permasalahan perselisihan kekuasaan Mesir dan posisi Arab Saudi sebenarnya telah ditunjuki oleh Allah azza wa jalla dalam Qu’an surat al-Hujurat ayat ke 9, “Dan apabila ada dua golongan orang mukmin berperang, maka damaikanlah keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zhalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zhalim itu, sehingga golongan itu kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. Posisi Arab Saudi hakikatnya adalah golongan yang mampu mendamaikan pihak-pihak yang bertikai dalam negeri Mesir. Saudi-pun sebenarnya dapat berlaku adil kepada kedua pihak. Saudi seharusnya mengikuti petunjuk Allah azza wa jalla ini dengan memihak kepada golongan yang ter-zhalimi, bukan sebaliknya. Hanya sekadar persoalan perut, Saudi malah menjual keadilan. Ust. Aris Munandar seharusnya bisa menangkap pesan ayat qauliyah ini, bukan malah melegitimasi kobobrokan mental monarki Saudi. Tidak hanya pelaku media Islam, pelaku media sekular-pun setali tiga uang, alias sama saja.

     Jawa Pos dan Kompas adalah media cetak kesohor pimpinan Dahlan Iskan. Keduanya selalu sibuk dengan menyuarakan kasus tindak pidana korupsi para politikus tanah air. Keduanya malah tidak mem-publish  dan membongkar kejahatan yang dilakukan “bos-nya”. Dalam Pesantren Jurnalistik yang diadakan oleh Jama’ah Shalahuddin UGM pada bulan Ramadhan 1434 H / 2013 M, mereka mengundang pembicara dari pejabat media Jurnas.com. Kami lupa namanya, tapi bisa dicek dan diverifikasi ke moderator acara, Ahmad Syarifudin, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UGM, angkatan 2011. Pembicara ini menyatakan beberapa kejahatan “bos-bos” media yang tidak pernah dipublikasikan ke publik, salah satunya kejahatan yang dilakukan oleh Dahlan Iskan. Ia menngatakan bahwa Dahlan Iskan adalah penggelap pajak beberapa perusahaan tambang di Indonesia. Bisa dibayangkan pajak suatu perusahan bukanlah barang 1-2 juta, tapi milyaran bahkan trilyunan rupiah. Dan sebagiannya itu masuk ke kantong Dahlan Iskan. Masya Allah, ia makan uang rakyat. Ini adalah ketidak-adilan dan kezhaliman besar. Dari sini bisa kita tangkap makna adil dan penyimpangan-penyimpangannya. Dari sini pula, nyatalah suatu tendensi yang salah.

     Kembali kepada masalah kebenaran. Kebenaran dan keadilan adalah hal yang harus disuarakan dan diperjuangkan. Gunawan Muhammad, Seorang jurnalis senior, pernah berkata kepada rekan-rekannya “Kita boleh lelah tapi kita tak boleh nyerah, kita boleh kalah tapi kita tak boleh takluk”. Kata-kata ini menjadi spirit dan nasehat bagi para jurnalis dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

     Seorang jurnalis dalam mencari dan “mengorek” kebenaran harus berjuang dengan mengkaji data-data dan menemui berbagai narasumber valid. Tidak jarang dalam pengkajian dan pencarian, para jurnalis gagal menemukan kebenaran. Tapi Gunawan Muhammad berkata “Kita tidak boleh nyerah”. Kata-kata ini membangkitkan spirit untuk terus mencari kebenaran. Tidak jarang pula ketika menemukan kebenaran lalu mem-publish-nya, media itu malah kemudian dibredel oleh pemerintah. Lebih jauh para jurnalis kemudian disiksa dan dijebloskan ke penjara atas pengungkapannya di media itu. Secara fisik para jurnalis kalah, tapi ingat “kita boleh kalah tapi kita tidak boleh takluk”. Boleh jadi media tempat ia bekerja dibredel atau bahkan dirinya dijebloskan ke penjara. Tapi hati dan mental para jurnalis tidak boleh takluk dengan tekanan-tekanan itu. Ghirah-Spirit inilah yang terus berkobar di sanubari para jurnalis sejati. Ketetapan Allah azza wa jalla itu penuh hikmah. walau ada pelaku media yang berlaku bak pelacur-penjilat ketidak-adilan, masih ada para jurnalis yang tegak menantang ketidak-adilan.

wallahu a’lam bish showab

Iklan

About this entry