Sejarah Perselisihan Salafiyyin (Ahlu Hadits) & Asy’ariyyin

         Antara abad 10-13 Masehi, api perpolitikan dunia Islam sedang membara. Moral manusia di negeri muslim pada saat itu sedang jatuh-jatuhnya, kecuali hamba-hamba pilihan Allah aza wa jalla. Ini disebabkan oleh tiga penyakit besar yang menjangkiti ummat Islam kala itu. 3 penyakit itu diantaranya, bangkitnya sifat-sifat kesukuan (nashabiyyah), perselisihan antara para pengikut 4 madzhab, dan penyakit wahn.

          Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Ibnu Khaldun dalam kitab al-Mukaddimah bahwa Setiap peradaban itu bangkit dan musnah, setiap peradaban akan mencapai puncak kejayaannya, kebangkitan setiap peradaban selalu diawali oleh fanatisme dan semangat menuntut ilmu, dan kejatuhan setiap peradaban disebabkan kerusakan moral dan rendahnya semangat menuntut ilmu, sekalipun peradaban itu kaya dan zhahir-nya terlihat kuat secara militer. Ini senada dengan apa yang Allah azza wa jalla firmankan dalam al-Qur’an surat Ali Imran ayat ke 140 :

…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)…

              Sebelum dimulai mengkaji 3 penyakit terbesar saat itu, ada baiknya kita melihat gambaran akan kerusakan moral dan sosial di negeri muslim kala itu. Ketiga penyakit ini adalah sifat-sifat jahiliyah. Rasulullah shalallahu alaihi wa salam telah datang membawa cahaya terang benderang. Apakah kita lebih memilih kejahiliyaan daripada Islam, tentu jawabannya kembali pada diri kita masing-masing. Hal ini digambarkan dengan begitu jelas oleh Dr. Majid ‘Irsan al-Kilani, dalam bukunya . هكذا ظهر جيل صلاح الدين و هكذا عادت القدس yang diterbitkan oleh ad-Dar as-Su’udiyyah pada tahun 1985. Dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Asep Sobari. Lc., dengan judul “Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib” dan diterbitkan oleh Kalam Aulia Mediatama pada tahun 2007 M / 1428 H. Berikut ini kutipannya,

            Hancurnya keutuhan manhaj pemikiran dan maraknya madzhabisme sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosial. Manhaj Ummat Islam benar-benar hancur dan sebagai gantinya adalah muncul fanatisme keluarga-marga (Nashabiyyah), fanatisme kedaerahan-kesukuan, dan fanatisme madzhab fikih, bahkan ada pula fanatisme wilayah-wilayah kecil di dalam suatu kota. Buku-buku sejarah mencatat berbagai peristiwa pertikaian dan kerusuhan yang terjadi pada periode tersebut.

             Sebagai contoh, Ibnu Atsir mencatat kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di beberapa bagian di kota Baghdad yang melibatkan penduduk Baab al-Bashrah, Karkh, Suuq al-Madrasah dan lain-lain. Ibnu Atsir menambahkan bahwa kerusuhan antar warga sering sekali terjadi. Pada tahun 470 Hijriah sejumlah orang terbunuh dan rumah dibakar, “Masyarakat beramai-ramai keluar sambil mengangkat tongkat, mereka menyerang menteri yang sedang bersantai di kamarnya seraya melontarkan kata-kata kasar, sering sekali terjadi penjarahan, pembunuhan, dan perusakan yang sangat merugikan”.

          Kehidupan sosial pada masa itu diwarnai oleh kerusuhan dan kekacauan. Gerombolan pengacau dan perampok sering melakukan aksi di jantung ibu kota Baghdad, mereka tidak segan menguasai beberapa kawasan dan melawan aparat kerajaan. Sering pula terjadi bentrokan antara masyarakat umum dengan pelayan-pelayan Khalifah yang beretnik Turki.

            Kerusakan yang amat parah tersebut disertai dengan maraknya hiburan dan kemerosotan akhlaq. Pada waktu itu terkenal sekali dengan permainan mengadu burung merpati, prostitusi dan minuman keras juga berbagai hiburan lainnya. Pelacur dan penyanyi sangat marak dan sulit dibayangkan.

         Sementara kehidupan keagamaan cenderung terbatas pada pelaksanaan ritual semata (ubudiyyah semata) dan ibadah lahiriyah, sedangkan pengaruh agama dalam pola interaksi dan mu’amalah sama sekali tidak terasa. Buku-buku sejarah yang mencatat kondisi waktu itu memuat banyak sekali fakta dan fenomena tersebut.

        Penyakit pertama adalah Fanatisme Nashabiyyah. Penyakit ini tercermin dari Bani Umayyah yang tidak mau menolong Bani Umayyah di Spanyol Andalusia, yang kala itu digempur habis-habisan oleh raja-raja Perancis dan Jerman. Karena kesukuan-nashabiyyah, Baghdad dan Andalusia tidak mau membantu saudara-saudaranya di Sicilia yang diserang oleh raja kafir dari Roma dan Normandi. Disebabkan nashabiyyah pula raja Maghrib dan raja Saljuk tidak mau menolong Baghdad yang tengah dikepung dan dibantai oleh Pasukan Mongol Tartar. Bahkan ketika Ibnu Taimiyah rahimallahu ta’ala menyerukan untuk berjihad melawan pasukan Tartar, segelintir dari pengikutnya membelot seraya mencibir seperti cibiran orang-orang ta’ashub di zaman sekarang, “ Teroris, Ekrtimis, Pemberontak, Sururiy, Harakiy, dst, dst!”.

            Dilema yang setali tiga uang dengan yang terlihat pada masa sekarang. Indonesia, negeri ummat muslim terbanyak di dunia, petinggi-petingginya sibuk menggerogoti kekayaan dan hak-hak warganya sendiri. Arab Saudi, negara muslim termakmur di dunia, sibuk memenjarakan dan melabeli cap-cap teroris kepada para aktivis muslimnya. Seraya menutup mata akan pembantaian di 2 negeri di utaranya, 1 negeri Afrika Tengah di baratnya, dan 1 negeri Afrika nan malang di barat daya-nya. Iran, negara makmur yang sukses dengan revolusinya, sibuk dengan menyebarkan madzhab dhalalah-nya ke seluruh dunia. Sembari ia berpelukan dan berjabat tangan dengan orang-orang kafir Yahudi dan kafir Barat. Seraya Indonesia diobok-obok Barat, Iran selaku “istri kedua” Barat, terlihat sering bersitegang dengan “istri-istri pertama” Barat di jazirah dan kawasan teluk.

           Bahkan bisa jadi, orang-orang Jogja tidak mau menolong tetangganya yang orang Solo. Dan karena kesukuan pula. Bisa jadi pula, orang Jawa tidak mau mengurangi kesengsaraan saudara-saudaranya yang orang Batak. Masyhur kisah di jaman Nabi shlalallahu alaihi wa salam, seorang Anshar yang tertabrak pinggulnya oleh seorang Muhajirin. Lalu orang Anshar itu berteriak marah, “Yaa… Muhajiriin…”, lalu orang Muhajirin itu berteriak ganti menantang, “Yaa… Anshariyyiin…”. Lalu orang-orang disekitar mereka berdua saling meneriaki satu sama lain. Akhirnya Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam keluar dari tendanya dan kurang lebih berkata dengan tegas, “Berhentilah kalian dari sifat Jahiliyyah (fanatisme kesukuan) yang sudah basi ini….!”. Seandainya Rasulullah tidak keluar dan memperingatkan mereka, maka barang tentu sudah terjadi pertikaian tercela karena perkara kesukuan-nashabiyyah Jahiliyyah ini.

 

           Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS. Al-Hujurat : 13).

        Penyakit Ummat berikutnya adalah fanatisme madzhab yang masih dalam lingkaran ahlu sunnah wa jama’ah. Penyakit ini sangat dibenci oleh 2 Ghazali. Dua Ghazali yakni Imam Abu Hamid al-Ghazali, ulama Khurasan terkemuka penulis kitab Ihya ‘Ulumuddin dan Muhammad al-Ghazali seorang ulama, pemikir, dan aktivis muslim Mesir. Penyakit fanatisme madzhab ini disebabkan oleh dua hal. Yang pertama adalah kebodohan akan hakikat ilmu Agama dan yang kedua adalah ghil. Ghil itu hasut, dendam, iri, dan dengki. Kebodohan adalah penyakit yang menyerang kepala sedangkan Ghil adalah penyakit yang menyerang hati.

      Bentuk-bentuk dari pertikaian antar madzhab ini adalah perdebatan dan perselisihan dalam hal-hal furu’iyyah. Orang-orang yang bodoh akan hakikat agama cenderung tidak dapat membedakan mana masalah agama yang sifatnya ushul dan mana yang sifatnya furu’, mana yang sifatnya qath’i dan mana yang zhanni, mana yang muhkamat dan mana yang mutasyabihat, mana bid’ah mukaffirah dan mana bid’ah ghairu mukaffirah, mana yang tsawabit dan mana mutaghayyirat, mana yang sifatnya qaidah tetap dan mana yang sifatnya manhajiy ijtihadiy, mana yang esensi dan mana yang substansi, mana ta’wil yang diperbolehkan dan mana ta’wil yang melampaui batas, mana yang prioritas dan mana yang bukan prioritas, mana hadits yang boleh disampaikan ke khalayak dan mana yang tidak boleh disampaikan, mana yang sudah menjadi Ijma’ dan mana yang masih menjadi ikhtilaf, bagaimana kaidah penentuan Ijma’ dan bagaimana pula mengenali yang ikhtilaf. Dan di dalam yang ushul ada furu’-nya, pun di dalam yang furu’ ada yang ushul, bahkan dalam aqidah pun ada yang furu’ dan ada yang ikhtilaf ghairu mukaffirah.

         Sehingga orang-orang bodoh yang tidak pernah belajar ilmu-ilmu agama secara sistematis ini biasanya dengan serampangan membid’ahkan, menyesatkan, atau bahkan mengkafirkan. Ini perkara yang sangat berbahaya yang akan mencabik-cabik ukhuwah dan mengaburkan orientasi dakwah. Yang pada niat awal-nya adalah dakwah Ilallah, tanpa sadar menjadi dakwah ilaa hidzbiyyah. Pun yang Asy’riyyin sebaiknya memilah dan memperioritaskan mana amalannya yang berbentuk tasabbuh dengan amalan agama lain. Dan bagaimana bertoleransi dengan agama lain. Karena makna toleransi dewasa ini, sudah disusupi makna pluralisme yang menggrogoti aqidah, al-wala’ dan al-bara’.

      Serta kalangan asy’ariyyin dapaat menghilangkan khurafat dan syirik di dalam tubuh jama’ahnya, karena noda syirik dapat merusak inti akidah. Walaupun syirik tersebut terkategori syirik asghar, tetap ia akan mengrogoti tauhid. Contoh dalam Logika-Sejarah, rentetan panjang penyelewengan fungsi patung dan kuburan dari fungsinya telah membawa ummat manusia kepada penyelewengan. Patung yang seyogyanya menjadi bentuk pengingat akan jasa orang-orang shaleh diselewengkan oleh manusia menjadi sesembahan.

    Kasus kaum Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, Nashr, Lata, Uzza yang aslinya orang-orang shalih dan bahkan Nabi Isa ‘alaihi salam awalnya gambar dan patung mereka untuk mengingat jasa-jasa kemudian setan memperindah pandangan manusia kala itu untuk menyembah mereka. Pun pada masalah kuburan, ini penting sekali, dalam sejarah Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam pernah melarang ziarah kubur karena ditakutkan Ummat menjadikannya perantara kepada Allah. Syariat telah mengatur tawasul dengan 3 hal yakni, dengan Asma wa sifat, dengan shadaqah dan dengan do’a orang shalih yang masih hidup. Seperti yang dilakukan Ummat sebelum Islam datang. Kemudian syaithan memperindah hal ini. Jadilah orang-orang tidak mau bersusah payah berusaha mendekatkan diri kepada Allah seperti yang diajarkan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam. Manusia secara naluri suka yang instan, maka manusia lebih suka kepada mendekati kuburan daripada mendekati Allah secara langsung. Inilah bentuk penyelewengan fungsi patung dan kuburan. Dalil aqliyah ini sudah cukup menjawab, terlebih dari dalil-dalil naqli.

    Banyak sekali dalil-dalil naqli shahih dengan sanad dhabit yang menguatkan hal ini. Sangat disayangkan, bila sejumlah muslim bermain-main melalui ushul fikih untuk melegitimasi syirik ashgar  agar menjadi tidak syirik.

       Berikut contoh-contoh hal yang furu’ dalam hukum-hukum fikih. Yang bercadar ya bercadar, karena hukum fiqihnya sudah jelas sunnah (dikerjakan berpahala, dan tidak dikerjakan sayang sekali), maka tidak pantas orang yang tidak bercadar berkata “Kalau mau pake cadar silahkan di Arab saja!”, dan tidak beradab pula bila yang bercadar membenci dan mencaci yang tidak bercadar. Yang menjadi fokus adalah bagaimana yang tidak berhijab dan kasiyati aryat itu agar berhijab. Yang memelihara jenggot ya dipelihara, yang tidak berjenggot ya sudah dan tidak sebaiknya mencela dengan celaan yang menyakitkan hati kepada yang berjenggot. Juga dalam hal sholat, yang qunut ya monggo dan yang tidak qunut-pun juga boleh. Karena para ahlu fikih telah membahas bahwa masalah qunut dalam shalat subuh itu adalah ikhtilaf abadi. Yang menjadi masalah itu adalah bagaimana agar manusia shalat subuh. Diantara yang ikhtilaf abadi dalam shalat lainnya adalah masalah pembacaan bismillah di-jahar-kan atau sirr, dari ibtidal ke sujud apakah kaki dulu atau tangan dulu, dan apakah dalam takbiratul ihram tangan sejajar telinga atau sejajar dada.

          Hal-hal furu’iyyah ini tidak sebaiknya diperselisihkan hingga berdebat tentangnya dan jangan pula dipolitisir. Mungkin karena ada ghil di hati antar sesama ‘alim, yang menginginkan agar majelisnya ramai iapun mengangkat masalah furu’ dan lalu membesar-besarkannya wa iyya uzubillah. Tapi bukan berarti tidak memilih basic furu’nya, seorang muslim memilih tanpa harus berselisih dengan muslim lainnya. Pendidikan dan pengajaran mengenai basic furu’ adalah penting untuk diajarkan oleh para ‘alim madzhab dan manhaj masing-masing. Agar pengikut suatu madzhab tidak bingung dan dapat mengamalkan fiqih-nya dengan tenang. Kembali ditekankan di sini, diantara pendapat 4 madzhab fiqih itu harus dipilih salah satu. Dipilih yang paling rajih dan paling mententramkan hati. Kalau tidak memiliki kapabilitas ilmu untuk memilih, ya sudah, dengan taqlid pada para ulama kibar diantara 4 madzhab sudah cukup baginya.

       Dalam masalah furu’ ini saya ingin mengetengahkan perjalanan sejarah dua madzhab akidah dan madzhab fikih besar Ummat ini yang masih dalam lingkaran ahlu sunnah wal jama’ah. Yakni madzhab Ahlu Hadits yang ber-madzhab fiqih Hanbali dan madzhab Asy’ari yang sebagaian besar ber-mazdhab Syafi’i (walau ada sebagian yang ber-madzhab Hanafi). Yakni sejarah mereka dari segi mua’amalah dan percaturan Ummat di Syam-Baghdad dan Indonesia.

       Kedua madzhab yakni, Syafi’i-Asy’ari dan Hanbali-Ahlu Hadits telah mengalami kisah asmara yang berliku-liku sepanjang sejarahnya. Kedua madzhab pernah satu hati-satu cinta mendukung Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Ketika rakyat dipaksa menerima pendapat kaum Mu’tazilah di bawah tampuk menteri Ibnu Abu Daud dan didekengi oleh Khalifah al-Ma’mun yang kamudian diteruskan oleh Khalifah al-Mu’tashim. Pendapat itu adalah bahwa al-Qur’an itu makhluk. Imam Ahmad bin Hanbal tidak terima dengan pelecehan itu, ia menolak pendapat itu, al-Qur’an itu bukan makhluk tapi kalamullah. Ketegasan Imam Ahmad membuat murid-muridnya dan pengikut-pengikut imam Syafi’i di Baghdad dan Syam bangkit mendukung beliau. Beliau akhirnya mendapat ujian penjara dan cambukan. Namun dengan keteguhannya, Allah mengangkat derajatnya di hati Ummat.

     Sepeninggal Imam Ahmad bin Hanbal dan Abu Hasan al-Asy’ari, Ahlu Hadits kembali berselisih dengan Asy’ari. Perselisihan ini berlangsung lama hingga datang masa badi’i az-Zaman Imam Abu Hamid al-Ghazali (ber-madzhab Syafi’i) dan Abdul Qadir Jailani rahimallah (ber-madzhab Hanbali). Terasa tentram Ummat dalam pengawalan keduanya.Sepeninggal mereka berdua, Asy’ari dan Ahlu Hadits kembali bersitegang. Ibarat pepatah mengatakan, kalau sudah tidak ada musuh maka bersiaplah saling memakan, kalau orang tua sudah meninggal maka bersiap-siaplah berselisih tentang warisannya, na’uzubillah min dzaalika.

          Perselisihan dan ketegangan ini terus berlanjut hingga mencapai puncaknya pada awal abad ke-19 M. Terjadi gerakan penakhlukan kabilah-kabilah di semenanjung Arab oleh Bani Su’ud. Dendam kesumat dan “talaq ba’in” telah membakar api cinta antara Asy’ariy dan Ahlu Hadits. Tambah panas seiring dengan peruntuhan dan pembumi-rataan maqam-maqam para Wali yang menjadi tempat sesembahan kaum Syi’ah dan Sufi. Pada tahun 1903-1838 M, Perang antara kaum Paderi dan kaum Adat yang didukung oleh kafir Belanda berkobar di Tanah Minang. Perang ini turut andil membuka luka lama yang sudah mulai kering.

      Masih hangat di telinga kita akan perdebatan antara Ahmad Hasan dari pihak Ahlu Hadits dengan Mama Adjengan dan K.H. Hidajat dari pihak Asy’ari. Perdebatan ini mengenai perkara bid’ah dan taqlid. Perdebatan yang terjadi pada tahun 1920-an ini miris sekali. Prof. Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya “Api Sejarah I” berkomentar bahwa Perdebatan ini Miris sekali, karena baru saja Ummat terlepas dari penindasan penjajah dalam bentuk Tanam Paksa oleh penjajah kafir Belanda. (Tanam Paksa berlangsung antara tahun 1830 hingga 1920).

 

           … Maka mereka tidak berselisih, kecuali setelah datang kepada mereka ilmu …(QS. Yunus : 93)

 

        Dengan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, cinta antara Asy’ariyyin dan Ahlu Hadits bersemi kembali pada 22 Oktober 1945. Resolusi Jihad dikumandangkan oleh KH. Hasyim Asy’ari. Didukung sepenuhnya oleh Laskar Hizboellah dan Pasukan PETA yang di dalamnya terdapat para pemuda Muhammadiyyah (secara garis besar Muhammadiyyah ber-madzhab Hanbali). Mulai berdatanganlah pemuka-pemuka Asy’ari beserta santri-santrinya dari seluruh tanah Jawa, dan berduyun-duyun pula pemuda-pemuda Ahlu Hadits Muhammadiyyah ke Surabaya. Mereka datang menyongsong panggilan Jihad Fi Sabilillah melawan NICA dan kafir Belanda. Dengan pidatonya yang berapi-api Bung Tomo menyemangati para pemuda Muslim. Dan dengan teriakannya yang lantang, ia selalu mengakhiri pidatonya dengan kalimat “Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… Merdeka atau Mati…!”

        Kemesraan antara Ahlu Hadits dan Asy’ariyyin berjalan begitu Indah dalam bingkai ukhuwah dan perjuangan. Tak pelak dan masih terekam dengan indahnya kebersamaan Muhammad Natsir dari pihak Ahlu Hadits dan KH. Isa Anshori dari pihak Asy’ari. Bersama-sama mereka membentuk Front untuk menentang Komunisme. Kerendahan hati seorang Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) dengan terus menerus menjalin dan menjaga ukhuwah dengan pihak Asy’ariyyin, dengan izin Allah turut berkontribusi menyatukan hati Ummat . Haji Abdul Malik Karim Amrullah adalah anak dari Haji Rasul, seorang ulama Ahlu Hadits terkemuka di Tanah Minang. Terjalinnya ukhuwah ini telah membawa Ummat pada bulan madu yang paling manis sepanjang sejarah. Yang tidak pernah lagi dirasakan Ummat semenjak kedatangan Wali Songo pada abad ke-13 M.

       Roda memang berputar, sekali indah sekali pahit. Pintu fitnah kembali terbuka sepeninggal Muhammad Natsir (W. 1993). Akhirnya pada tahun 1998 datanglah era Reformasi. Kemesraan ini kian berakhir tragis. Terlebih ketika cucu pemuka Asy’ari dan pelopor Resolusi Jihad naik tahta kepresidenan. Ia begitu liberal dan mulai berselingkuh dengan “kaum kiri”. Tak tahan dengan hal ini, pemuda-pemuda Ahlu Hadits akhirnya memutuskan untuk pisah ranjang dengan Asy’ariyyin. Mereka makin hari makin Ghuluw dan akhirnya kian mesra dengan “kaum kanan”. Ukhuwah akhirnya kian porak-poranda akibat jarang bertemu dan ber-tabayyun. Pepatah Jawa “Wit ing tresno jalaran soko kulino” sudah hampa terasa. Bahkan pepatah ini dirampas oleh penikmat-penikmat zina untuk melampiaskan nafsu kemaluannya. Padahal ketinggian pepatah Jawa ini ditujukan untuk cinta suci, persatuan dan kebersamaan karena Allah. Jarang bertemu dan bertabayyun pulalah yang menyebabkan muncul ghil di hati keduanya. Subhanallah, apalah jadinya keluarga bila kedua orang tuanya bercerai. Apalah jadinya bila kakak-beradik yang lahir dari rahim yang sama kian bertengkar karena ghil menyemat di rongga dada mereka.

          Itulah sekelumit penjelasan penyakit nashabiyyah dan fanatisme madzhab yang telah menggerogoti persatuan Islam. Penyakit terkahir adalah Wahn. Penyakit cinta dunia dan takut mati. Tidak ingin berpanjang lebar, cukuplah kutipan dua hadits Nabi shalallahu alaihi wa salam untuk melihat gambaran sebenarnya penyakit wahn ini.

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

 

 Dari Tsauban, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘sudah dekat waktunya bangsa-bangsa memperebutkan kalian (umat Islam) sebagaimana memperebutkan makanan di mangkuknya.’ Lalu seseorang berkata, ‘Apakah saat itu kita kaum minoritas?’ Rasulullah menjawab, ‘(Tidak) bahkan kalian saat itu berjumlah sangat banyak, hanya saja kalian bagaikan buih yang terhempas (di lautan). Allah mengeluarkan dari hati musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian, dan Allah akan melempar wahn di dalam hati kalian.’ Lalu orang yang bertanya tadi kembali bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?’ Beliau menjawab, ‘mencintai dunia dan membenci kematian’.” (HR. Abu Dawud, Shahih: Al Misykah (5369), Ash-Shahihah (956).

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

Dari Ibnu Umar, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Jika kalian melakukan jual beli dengan cara ‘inah (‘inah adalah salah satu dari jenis riba -pen), mengambil ekor-ekor sapi, sibuk dengan pertanian, dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menebarkan kehinaan kepada kalian, yang tidak akan dicabutnya sampai kalian kembali ke agama Allah.” (HR. Abu Dawud, dengan derajat Shahih. Ash-Shahihah 11)

 

        Jika orientasi dakwah adalah ilaa hidzbiy dan sudah tidak lagi ilallah, maka yang ada hanyalah kematian ruh dakwah itu sendiri. Jika permasalahan furu’iyyah dan mutaghaiyyirat yang terus diangkat dan dibesar-besarkan, hilangnya semangat menjalin ukhuwah dan tabayyun, maka Allah tidak akan menyatukan hati para aktivis khususnya dan Ummat umumnya. Jika jihad bil qital dan jihad bil ‘ilmi telah ditinggalkan, maka kehormatan dan benteng agama ini akan porak-poranda. Jika akhlaq dan adab mulia Rasulullah shalallahu alaihi wa salam, al-wala’ dan al-bara’ dalam ber’muamalah dan berilmu telah ditinggalkan, maka kemuliaan Ummat ini akan benar-benar sirna. Marilah kita mulai Islah-perbaikan dari diri kita sendiri dan mulai dari saat ini.

Wa Astaghfirullah Wallahu Al’lam bishawab

 

 

Refrensi :

Ahmad Mansur Suryanegara, 2009, Api Sejarah, Cet. ke-5, Penerbit Salamadani, Bandung

Ahmad Mansur Suryanegara, 2010, Api Sejarah II, Cet. ke-4, Penerbit Salamadani, Bandung

Ahmad Syurbashi, 2006, Biografi Empat Imam Madzhab, Cetakan kedua, Media Insani Press, Solo

Majid Irsan al-Kilani, 2007, Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib, Cetakan pertama, Kalam Aulia Mediautama, Bekasi

Muhammad Nashiruddin al-Albani, Shahih Sunan Abu Daud, Jilid ketiga, Pustaka Azzam

 

Iklan

About this entry