Ilmuwan Muslim dan Apologi Barat

Sebagian besar ilmuwan Eropa dan para orientalis bersikap sombong dan terus menerus mengatakan bahwa peradaban mereka (peradaban Yunani-Romawi-Barat) tidak putus sama sekali dari bumi Eropa. Dan di bawah abad kegelapan–dark age di zaman pertengahan, enlighment bangkit dari gerakan renaisans dengan sendirinya. Perlu diketahui bahwa pernyataan ini adalah dusta belaka. Mereka berusaha menutupi malu di ujung hidung mereka, karena kebodohan mereka yang benar-benar meraja-lela pada abad pertengahan. Dan ketika itu pula Islam datang di Sicilia dan di Andalusia membawa modernitas peradaban dan keilmuan. Cahaya peradaban sejak Abad ke-7 M memang memancar dari puncak Baghdad, Andalusia dan Sicilia. Para ulama dengan suka rela dan semangat untuk mengajarkan berbagai ilmu dan teknologi di pelataran masjid. Menerima siapa saja dan orang mana saja untuk men-transfer ilmunya. Termasuk juga orang-orang Jerman, Inggris, Perancis dan Italia merupakan yang begitu semangat belajar kepada Ilmuwan-Ilmuwan Muslim.

Kalaulah peradaban Islam tidak mampir di bumi Spanyol (Andalusia) selama 6 Abad, tidak singgah di Sicilia 4 abad lamanya, orang-orang Eropa dilarang memasuki negeri-negeri muslim, tidak diperkenankan menterjemahkan karya-karya ulama, dan anak-anak muda Eropa tidak diperbolehkan mengikuti kuliah di universitas-universitas di Toledo, Granada, Cordoba, Alexandria, Damaskus, Baghdad, Sicilia, Malaga dan Sevilla, niscaya Barat tidak akan mencapai kedudukan peradabannya seperti sekarang.

Dengan angkuhnya pula, orang-orang Barat mengatakan “Peradaban Islam hanyalah Tukang Pos”. “Peradaban Islam hanyalah penjaga gudang karya-karya pemikir-pemikir Yunani”. “Peradaban Islam hanyalah tukang terjemah karya-karya pemikir Persia di bidang administrasi-menejemen dan hanyalah penulis ulang ilmu-ilmu teknologi perdaban India yang telah tenggelam”. Ini adalah kedustaan demi kedustaan yang dipenuhi keangkuhan dan kesombongan.

Pemikiran Plato, Socrates, Aristoteles dan ilmuwan Yunani lainnya, seperti apa yang dikatakan oleh Imam Abu Hamid al-Ghazali. Beliau berkata bahwa dasar-dasar ilmu logika, etika dan estetika adalah ilmu-ilmu yang berada di ketinggian ujung gading. Artinya bukanlah sembarang orang yang dapat memahami peninggalan-peninggalan pemikiran itu. Pastilah dan haruslah orang-orang itu memiliki ilmu mendalam dan pengetahuan yang sangat luas. Dan ini adalah anugerah luar biasa yang dikaruniakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-hamba-Nya dari golongan para Ulama.

Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, al-Khindi, Ibnu Sina, al-Farabi, ar-Razi, al-‘Idrisi dan yang lainnya. Dengan kepeduliannya kepada ummat, kemudian men-syarah dan menjelaskan ilmu-ilmu yang berada di ketinggian ujung gading ini, dengan bahasa yang sederhana serta mem-filter-nya agar tidak merusak agama dan akal. Bahkan al-Khindi sangat terkenal dengan semangatnya dalam membentengi agama dan syariat Islam, dengan mencari qiyas aqliyah dan hikmah pada setiap masalah-masalah syariat dan agama.

Seandainya oleh para ulama, ilmu-ilmu pemikiran ini tidak dituliskan dan dijelaskan dengan bahasa yang sederhana, maka yakinlah, orang-orang Barat sekarang ini tidak akan bisa menggunakan potensi dan fungsi akalnya secara maksimal. Tidak pula dapat mereka berpikir dengan metodologi ilmiah, dan akan kebingungan pula universitas-universitas di Barat, karena salah satu dasar untuk menyusun kurikululum menurut jenjang kapasitas peserta didik adalah dengan penggunaan fungsi akal dengan sempurna.

Perlu pula ditekankan, Ibnu Sina menulis kitab Qanun fi ath-Thib, kitab ini menjadi rujukan bidang kedokteran dan penyakit-penyakit. Juga, az-Zahrawi menyusun kitab tentang alat-alat bedah. Harley, seorang ahli anatomi tubuh terkemuka berkomentar mengenai kitab-kitab az-Zahrawi, “Seluruh pakar bedah sesudah abad ke-16 masih menimba ilmu dan berpatokan pada kitab-kitab az-Zahrawi”. Ibnu an-Nafis menyusun kitab Syarh Tasyrih al-Qanun, yang berisi penjelasan demi penjelasan dari kitab Qanun fi at-Thib. Ia tambahkan pula di dalamnya penemuan-penemuan kedokteran terbaru, yakni tentang jantung dan jalur-jalur peredaran darah. Dalam bukunya “Abaqirah Ulama’ al-Hadharah wa al-Islamiyyah”, Muhammad Gharib Jaudah berkata, “Ibnu an-Nafis hafal kitab Qanun fi at-Thib luar kepala”. Kesemua kitab-kitab ini digunakan sebagai refrensi utama di rumah sakit-rumah sakit dan universitas-universitas Eropa selama berabad-abad lamanya.

Al-Idrisi adalah sorang ahli dalam bidang pemikiran, geografi dan pemetaan. Ia menggambar peta dunia yang kemudian petanya itu disempurnakan oleh Kesultanan Turki Utsmani. Peta inilah yang kemudian menjadi pedoman penting bagi para pelayar muslim dan pelayar Eropa. Dengannya pula Columbus berani berlayar dan kemudian mendarat di kepulauan Karibia. Menurut keterangan dari Dr. Okrizal Eka Putra, seorang lulusan al-Azhar Mesir dan dosen beberapa universitas di Yogyakarta serta anggota MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) cabang DIY, ia katakan “Ketika Columbus mendarat di Karibia, ia begitu kaget karena ia disapa dengan “Assalamu alaikum” oleh penduduk sekitar. Penduduk Karibia menyangka ia adalah seorang Muslim-Arab. Ia begitu kaget karena Azhan telah dikumandangkan di sana. Nama “Carrebean” sendiri berasal dari bahasa Arab “Qaribiyya” yang artinya negeri yang dekat. Tetapi dengan kezhalimannya, ia menyembunyikan dan mendistorsi fenomena-fenomena ini. Alhamdulillah sekretaris pribadinya-lah yang kemudian membongkar hal-hal ini”.

Dalam dunia al-Handasa (Engineering), dikenang sepanjang masa seorang muhandis (engineer) muslim, namanya tertulis dalam tinta emas sejarah, dialah Badi’ az-Zaman Abu al-‘Iz Abu Bakar Isma’il bin ar-Raaz atau yang lebih dikenal dengan sebutan al-Jazari. Al-Jazari adalah orang pertama yang mengembangkan mekanisme double-action reciprocating piston untuk memompa air. Mekanisme piston ini pula yang kemudian menjadi cikal bakal pompa hydro modern dan mesin kendaraan bermotor. Tak hanya itu, ia adalah orang yang pertama kali membuat jam mekanis yang kemudian ia kembangkan menjadi water clock’s, elephant clocks, candle clock, dan seterusnya. Pada candle clock ia menggunakan jarum (dial) sebagai penunjuk waktu. Sehingga seorang ahli sejarah teknologi, Donald Routledge Hill (1996) dalam bukunya A History of Engineering in Classical and Medieval Times, berkata

 

He is best known for writing the al-Jāmiʿ bain al-ʿilm wa al-ʿamal al-nāfiʿ fī ṣināʿat al-ḥiyal (The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices) in 1206, where he described 100 mechanical devices, some 80 of which are trick vessels of various kinds, along with instructions on how to construct them, and he is the first man who made A clock with dial — Dia (al-Jazari -pen) adalah mekanik terbaik yang telah menulis Kitab Kumpulan Pengetahuan Mengenai Penemuan Peralatan-Peralatan Mekanik. Yang ia tulis pada tahun 1206 Masehi. Di sana jelaskan 100 peralatan mekanik, 80 diantaranya teknik rekayasa energi hydro dalam berbagai bentuk, dan dijelaskan pula bagaimana cara membangun peralatan-peralatan itu. Dan dia adalah orang pertama yang membuat jam mekanik menggunakan jarum (dial).

Sejalan dengan al-Jazari, adalah seorang Ulama dan Ilmuwan Ibnu al-Haitsam yang hidup pada abat ke 10 M. Ia adalah seorang fisikawan dan juga perintis metodologi penelitan ilmiah modern. Ibnu al-Haitsam adalah fisikawan yang paling banyak dipuji oleh banyak ilmuwan Barat. Bagaimana sampai ia dikatakan sebagai perintis metodologi penelitan ilmiah modern? Dan bagaimana pula Ibnu al-Haitsam bisa melakukan penelitian ilmiah dalam dunia optik, yang kemudian dikembangkan oleh orang-orang Eropa untuk membuat peralatan elektronik berbasis optik? Baiknya di sini saya kutipkan secara lengkap dari perkataan Muhammad Gharib Jaudah dalam bukunya “Abaqirah Ulama’ al-Hadharah wa al-Islamiyyah”,

Diantara kejeniusan Ibnu al-Haitsam adalah dia berhasil menggagas methodologi ilmiah (scientific method) yang menjadi aturan dalam melakukan penelitian ilmiah pada masa sekarang. Dari metode inilah dia dapat menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan gerhana matahari, cahaya, dan perbintangan. Dalam kitab-kitabnya kita dapatkan sesuatu yang menunjukkan bahwa ketika melakukan eksperimen dia melihat, mengamati, membandingkan dan menentukan sampel–metode sampling dan penentuan variabel, persis sama dengan metodologi penilitian ilmiah saat ini. (Sehingga ia layak menyandang gelar Bapak Metodologi Penelitan Ilmiah Modern -pen).

Tetapi yang sangat disayangkan adalah para sejarawan Barat melakukan tashrif (distorsi). Mereka mengatakan bahwa metode penelitian ilmiah ditemukan oleh seorang filsuf Inggris, Francis Bacon. Dan tentu ini adalah penipuan yang ditujukan untuk mendistorsi fakta sejarah Ibnu al-Haitsam.

Perilaku sejarawan Barat dalam hal ini nyata-nyata suatu bentuk kezaliman. Mereka melakukannya karena fanatik kesukuan Eropa (‘Urubba an-Nashabiyyah). Padahal seharusnya permadani ilmu dan peradaban harus bersih dari segala bentuk fanatisme sempit. Barangkali karena para sejarawan Barat tidak mau penemuan ini diciptakan oleh ilmuwan Arab-Muslim, sehingga mereka menganggapnya sebagai penemuan pemikir Barat. Bahkan mereka memberi sebutan penemuan metode ilmiah ini dengan Baconian Method (ini berarti pencurian karya ilmiah -pen). Akan tetapi, bukti-bukti yang kuat telah menguak bahwa metode ilmiah ini ditemukan oleh Ibnu al-Haitsam. Berikut ini bukti-bukti tersebut :

1-      Bacon hidup antara tahun 1561 – 1626 M. Sedangkan Ibnu al-Haitsam hidup antara tahun 956 – 1039 M. Ini menunjukkan bahwa Ibnu al-Haitsam hidup lebih awal dengan selisih waktu 6 abad dari lahirnya Bacon.

2-      Bacon hanyalah seorang filsuf teoritis dan bukan seorang ilmuwan sains. Sedangkan Ibnu al-Haitsam adalah seorang ilmuwan, aktif di laboratorium, dan banyak membuat eksperimen yang selalu diulang-ulang dalam berbagai kondisi agar dapat menyimpulkan Hukum Umum (General Law).

3-      Metode ilmiah Bacon tidak mencakup semua unsur penelitian. Sedangkan metode Ibnu al-Haitsam mencakup semua unsur penelitian, hingga sempurna dan menjadi percontohan.

            Hal ini dapat kita lihat dari perkataan Prof. Qadri Thauqan dalam bukunya “Turatsul Arabiy al-Ilmi”. Ia berkata, “Saya baru saja tahu dari kitab manuskrip Ibnu al-Haitsam tentang ilmu optik yang saya peroleh dari Prof. Ahmad Samih, bahwa Ibnu al-Haitsam adalah orang yang membuat dasar-dasar metode ilmiah. Dia juga melakukan eksperimen untuk meyakinkan kebenaran dari suatu teori. Cara eksperimen inilah yang kita praktikkan di sekolah-sekolah menengah atas dan universitas-universitas.”

            Ketika Ibnu al-Haitsam mempelajari sinar cahaya yang melewati lubang kecil, lalu dia membuat kotak khusus untuk itu, dan dia memberi nama kotak itu dengan sebutan “Ghurfatu as-Sauda”–ruang gelap. Istilah ini kemudian dipakai oleh para penterjemah ke dalam bahasa Latin menjadi “Camera Obsecura”. Akan tetapi lafazh pertama, yakni mudhaf-nya lah yang paling banyak digunakan. Lafazh ini (Camera) kemudain dipakai menjadi nama alat pemotret gambar.

            Banyak sekali para ilmuwan Barat yang memuji Ibnu al-Haitsam, diantaranya Heward Aiper penulis buku History of Mathematics, George Sarton dalam bukunya Intoduction for History of Knowledge, Killy dalam bukunya History of Astronomy, — dan Orientalis Jerman, Zigrid Hunke, dalam bukunya yang telah diterjemahkan di Mesir dengan judul “Syams Allah Tastha’ ala al-Gharb”. Dia berkata,

 

“ Ibnu al-Haitsam adalah salah seorang Ilmuwan Arab terkemuka dan paling berpengaruh di Barat. Dia merupakan orang yang pertama kali melakukan eksperimen dengan menggunakan “perangkat lubang” atau “ruang gelap” yang pada hakekatnya merupakan bentuk awal dari kamera yang ada sekarang. Dia berhasil membuktikan bahwa cahaya menyebar pada garis-garis yang lurus. Dia hampir saja tidak percaya ketika matanya melihat gambar dunia terbalik ketika dipantulkan. Eksperimen yang sama kemudian dilakukan oleh seniman Itali, Leonardo da Vinci, yang hidup antara tahun 1452 hingga tahun 1518. Kedua orang ini terpisah oleh waktu 5 abad lamanya.”

 

Dr. Malik B. Badri mengatakan bahwa, ilmu jiwa (Psikologi) lahir dan memisahkan diri dari diskursus ilmu Pemikiran. Yakni sejak Desember 1879, ketika Wilhem Wundt mengadakan eksperimen tentang perilaku di Universitas Leipzig, Jerman. Dalam dunia Islam, perilaku jiwa manusia telah telah dibicarakan oleh Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah dan al-Ghazali berabad-abad yang lampau. Dalam jarak waktu saja, antara kelahiran Imam al-Ghazali (L. 1029 M / 450 H) dengan tercetusnya diskursus ilmu jiwa di dunia Barat, terpisah rentang waktu 8,5 abad lamanya. Di lain pihak, Ibnu Athailah al-Iskandari juga merupakan pakar kejiwaan yang memang pantas untuk diberi penghargaan tinggi dalam ilmu Kejiwaan. Kejeniusan Ibnu Athailah dalam ilmu kejiwaan tercermin jelas pada kitab Al-Hikam yang ia tulis.

Sebenarnya masih banyak karya-karya para ulama dan ilmuwan Muslim lainnya dalam bidang Humaniora dan bidang Pertanian yang perlu untuk dijelaskan. Namun dalam risalah kecil ini, penjelasan mengenai karya-karya ilmiah para ulama dalam bidang Pemikiran, Kedokteran, Sains, dan Psikologi telah cukup mewakili dalam penggambaran akan terang benderangnya cahaya Peradaban Islam. Cahaya Peradaban Islam memancar ketika Peradaban Barat sedang tertimbun dalam lumpur Abad Kegelapan (Dark Age).

Walalahu a’lam bish Shawab

 

Refrensi :

Muhammad Gharib Jaudah, 2007, 147 Ilmuwan Terkemuka Dalam Sejarah Islam, Pustaka al-Kautsar, Jakarta

Raghib as-Sirjani, 2009, Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia, Pustaka al-Kautsar, Jakarta

Iklan

About this entry